Ilmuwan Indonesia temukan partikel Tuhan

Artikel terkait : Ilmuwan Indonesia temukan partikel Tuhan

Dunia fisika dikejutkan dengan penemuan partikel Higgs Bosson. Selama ini keberadaan partikel ini
hanya ada dalam model teori standar. "Tanpa partikel ini tak ada akan ada berat, maka tak ada alam
semesta. Tak akan ada apa-apa," kata Haryo saat diwawancara melalui voice chat, 5 Juli 2012.

Indonesia patut berbangga. fisikawan asal Indonesia ternyata juga terlibat dalam perburuan Higgs Boson atau Partikel Tuhan dalam eksperimen Large Hadron Collider
(LHC) Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN).

Fisikawan Indonesia yang terlibat program itu adalah Suharyo Sumowidagdo. Ia merupakan
lulusan program sarjana dan master dari jurusan Fisika Universitas Indonesia serta menamatkan
doktoral di Florida State University pada tahun 2008.

Partikel Tuhan adalah partikel terakhir dalam teori model standar. Ilmuwan mulai mencarinya sejak
tahun 1964. Dalam model ini, alam semesta tercipta dari 12 partikel dasar dan enam pembawa gaya.
Sebelumnya, baru lima partikel pembawa gaya yang ditemukan.

Haryo adalah satu dari dua fisikawan Indonesia yang terlibat dalam penelitian ini. Fisikawan lain,
Rahmat Rahmat, bekerja dari laboratorium Fermilab di Amerika Serikat. Adapun Haryo bekerja di
laboratorium CERN di Jenewa, Swiss.

Menemukan partikel ini bukan hal yang mudah. Ribuan peneliti yang ada dalam dua kelompok,
ATLAS dan CMS, bekerja bersama untuk menemukan partikel tersembunyi ini. "Ini bukan hasil kerja
segelintir orang tapi kolaborasi banyak lembaga dari puluhan negara," kata dia.

Haryo terlibat dalam penelitian CMS di Jenewa, Swiss, untuk menemukan Higgs boson. "Saya
bertanggung jawab untuk memastikan komponen detektor beroperasi. Komponen detektor itu harus
terus dipelihara, untuk bisa mendeteksi partikel," kata doktor berusia 36 tahun ini.

Lulus sarjana dan master di Universitas Indonesia, Haryo kemudian mendapatkan beasiswa untuk
program doktoral di Florida State University tahun 2001. Di situlah dia mulai terlibat dalam pencarian
Higgs Boson, berkolaborasi dengan Fermilab. Pada Januari 2009, Haryo menjadi bagian dari tim CERN di
Swiss. Haryo juga berperan dalam pengambilan data dari percobaan yang sudah berlangsung selama
bertahun-tahun ini. Dia juga disibukkan dengan kolaborasi dengan peneliti-peneliti lain serta diskusi
dengan peneliti yang lain. Dia juga terlibat dalam beberapa percobaan lain mengenai fisika partikel.

Pencarian Higgs boson dilakukan dengan mesin Large Hadron Collider yang beroperasi selama 24 jam,
tujuh hari seminggu. Haryo sendiri bekerja tak kalah keras, biasanya dimulai pukul delapan pagi
hingga sebelas malam. "Ilmuwan itu dinilai dari produktivitasnya, seperti pengusaha. Kalau tak kerja sebanyak-banyaknya,
sulit untuk menang dari peneliti lain," kata Haryo yang gemar memotret saat senggang. Selain
meneliti, Haryo juga menguasai ilmu teknik. Pasalnya, alat penelitian ilmuwan partikel tak bisa dibeli di
supermarket terdekat. Mereka harus bisa membuat alatnya sendiri, atau setidaknya tahu cara
memelihara dan merawatnya. Lalu apa sebenarnya guna penemuan partikel Higgs boson untuk umat manusia? "Ini penemuan yang
ada di luar imajinasi kita. Pengetahuan baru yang ilmuwan pun belum tahu apa kegunaan
praktisnya," kata pemegang gelar doktor dari Florida State University ini. Kegunaan praktis itu
mungkin belum akan diketahui dalam puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Haryo mencontohkan, penemuan ini seperti teori relativitas Einstein yang ketika diumumkan tujuh
puluh tahun lalu belum bisa dipahami. Kini, GPS bekerja berdasarkan teori itu. Tanpa teori Einstein, GPS
tak akan bisa menunjukkan lokasi dengan tepat dan akan meleset 50 hingga 100 meter. "Bagi ilmuwan, mendapat pengetahuan baru tentang dunia dimana kita hidup, akan membawa
apresiasi lebih kepada hidup ini," kata Haryo yang saat dihubungi tengah menghadiri konferensi
International Conference for High Energy Physics di Melbourne. Penemuan Higgs boson istimewa bagi Haryo karena penemuan ini mengingatkannya pada kejadian
yang menginspirasi dia menjadi seorang fisikawan partikel. 18 tahun lalu, seorang fisikawan Indonesia
bernama Stephan van den Brick ikut membuktikan adanya partikel quark top, salah satu partikel
yang juga mendukung model standar.

"Waktu itu saya baru diterima di UI, tak tahu apa-apa. Saya takjub bahwa ada lulusan UI yang bisa
menjadi bagian dari penemuan menakjubkan itu," kata dia. Guntingan koran tahun 1994 itu masih
disimpannya hingga sekarang.
Kini, Haryo benar-benar mencapai cita-citanya. Dia ikut menemukan partikel Higgs boson, keping
terakhir model standar, kunci dari rahasia besar alam semesta. Namun kerja belum selesai. Penemuan
ini baru awal pekerjaan panjang para ilmuwan. Karenanya, Haryo berharap, penemuan ini menginspirasi anak muda Indonesia untuk menjadi
fisikawan. "Semuanya mungkin asal mau bekerja keras. Jangan takut mencoba dan meninggalkan
zona nyaman," kata Haryo.

Artikel LiputanPost.tk Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Komentar anda adalah sebuah motivasi untuk kami menjadi lebih baik dalam menyajikan informasi yang lebih bermanfaat, dan jika anda ingin mengomentari sebuah artikel di blog ini saya harap anda mengomentari dengan bijak!

Your comment is a motivation for us to be better at presenting information that is more useful, and if you want to comment on an article on this blog I hope you commented wisely!

ATURAN/RULE
- sangat dilarang memasang anchor text di dalam posting komentar
- prohibited to install the anchor text in the post comments

Copyright © 2015 LiputanPost.tk | Design by Bamz